Ubah Doktrin Militer, Iran Sanggupi Perang Lawan AS Hingga 2029

Militer Iran resmi mengorganisasi ulang struktur pasukannya menuju doktrin yang lebih ofensif di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat, sebagaimana terungkap dalam wawancara eksklusif PBS bersama Penasihat Senior IRGC Brigjen Mohammad Reza Naqdi pada RabuNaqdi menegaskan bahwa Iran kini harus mampu menggelar operasi militer di dalam wilayah musuh jika kondisi memungkinkan, menandai pergeseran dari doktrin pertahanan pra-perang sekaligus sinyal persiapan menghadapi konfrontasi regional jangka panjang.

Strategi perang Iran difokuskan pada perang attrition yang diperkirakan dapat berlangsung selama lebih dari dua tahun hingga berakhirnya masa jabatan Donald Trump pada 2029.

Naqdi mengklaim bahwa semakin lama perang berlangsung, militer Iran justru semakin berpengalaman dan melihat kekuatan militer AS tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya.

Ia menambahkan bahwa kapasitas produksi rudal harian Iran saat ini melebihi jumlah yang diluncurkan, serta mengancam akan menargetkan ribuan aset ekonomi AS di seluruh dunia jika persediaan rudal mereka habis demi mencapai deterrence.

Sementara itu, upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz masih mengalami kebuntuan karena kedua negara saling menuntut konsesi yang enggan dipenuhi.

Meskipun Pakistan dan Qatar berupaya menjadi mediator dengan klaim bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, berlanjutnya bentrokan di lapangan telah merusak substansi perjanjian damai sementara yang kini mendekati akhir batas waktu negosiasi 60 hari.

Baca juga : Tanggapi Tuntutan Iran, Trump Balik Minta Ganti Rugi Atas Korban Perang